Cintai Dirimu : Karena Semua Berasal dari Diri Sendiri
Sumber gambar:
Mental Health, Sudahkan Kamu Mengenalinya? (Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia)Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang memiliki banyak penduduk. Tentunya dengan banyak penduduk, masyarakatnya juga memiliki kesehatan mental yang bermacam-macam. Bahkan menurut Hasil Survei I-NAMHS: Satu dari Tiga Remaja Indonesia Memiliki Masalah Kesehatan Mental yang menjelaskan bahwa angka tersebut setara dengan 15,5 juta dan 2,45 juta remaja Indonesia yang terkena gangguan mental.
Begitu banyaknya remaja Indonesia yang mengalami kesehatan mental sehingga dapat mempengaruhi pola hidup masyarakat. Sebelum memaparkan beberapa tips untuk menghindari gangguan kesehatan mental, kita kenali dulu yuk, apasih faktor-faktor yang menjadi penyebabnya?
Berikut beberapa faktor-faktor yang menjadi penyebab remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental:
1. Faktor Lingkungan
Faktor ini sangat berpengaruh besar terhadap kesehatan mental terutama pada para remaja yang sedang mengalami fase puberitas. Jika lingkungan mereka dikelilingi oleh orang-orang yang memberikan dampak negatif atau toxic, ini akan sangat berpengaruh bagi kesehatan mental mereka. Lingkungan yang paling berpengaruh itu yang pertama adalah lingkungan keluarga. Jika anak-anak mengalami tekanan dalam keluarganya, seperti brokenhome, Strict parents, membanding-bandingkan anak sendiri dengan anak lain dengan cara merendahkan, sering membentak-bentak anak, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, dan lain-lainnya, mereka akan cenderung meluapkan emosi, baik itu internal maupun eksternal. Internalnya seperti mereka meluapkan emosinya dengan menyakiti diri sendiri atau disebut dengan self injury, contohnya menggoreskan lengan dengan benda tajam, tidak mau makan dalam beberapa waktu, dan sebagainya. Eksternal seperti tidak dapat mengontrol emosi misalnya sering bertengkar dengan orang lain walaupun masalah sepele, atau ketika emosi mereka menghancurkan barang-barang disekitar mereka, yang paling parahnya mereka tidak segan melukai orang sekitar untuk meluapkan emosinya.
Yang kedua adalah lingkungan sekolah dan pertemanan. Hal ini juga berhubungan dengan faktor lingkungan keluarga, dimana mereka yang tidak nyaman berada di rumah karena banyak tekanan, tentunya mereka akan mencari kenyamanan di tempat lain salah satunya adalah sekolah. Namun, bukan berarti tempat pendidikan adalah tempat yang aman untuk mereka, bahkan bisa saja lebih parah dampak negatifnya dari lingkungan keluarga contohnya saja seperti pembullyan. Pembullyan ini bisa terjadi dikarenakan mereka yang memiliki lemah mental seperti takut melawan, sehingga mereka mudah disuruh melakukan ini dan itu bahkan tidak jarang juga melalui kekerasan dan ancaman. Tidak sedikit mereka yang sudah berada diposisi ini memiliki niat untuk mengakhiri hidup karena tidak ada tempat aman untuk mereka bebas. Atau yang lebih parah memiliki dendam mendalam kepada pelaku sehingga memunculkan niat untuk membunuh.
2. Faktor Traumatis
Faktro traumatis adalah peristiwa kehidupan yang tidak diinginkan dan memberikan efek mendalam kepada korban sehingga sangat berdampak pada kejiwaan mereka. Ketika mereka mengingat atau dihampiri oleh kejadian yang sama mereka akan memberikan respon berlebihan yang menyebabkan gangguan kesehatan mental. Penyebab terjadinya trauma berasal dari beberapa peristiwa seperti, pembullyan, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, kehilangan orang terdekat, bencana alam, mengalami kecelakaan, dan sebagainya.
3. Penggunaan Media Sosial
Faktor ini juga berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja apalagi di zaman yang serba menggunakan internet seperti sekarang. Memang banyak media-media sosial yang memberikan dampak positif kepada penggunaannya, tapi dampak negatifnya juga tak kalah banyak seperti membuat penggunanya mengalami kecanduan internet sehingga pengguna tidak hanya menerima hal-hal positif tapi juga hal-hal negatif yang dapat memicu depresi dan kecemasan. Mereka yang mengalami kecanduan gadget akan susah untuk tidur teratur dan susah menerapkan pola hidup sehat. Sehingga menimbulkan gejala insomnia dan stress berlebihan. Tidak hanya itu penggunaan media sosial juga menurunkan kemampuan sosial seperti menjauhkan orang terdekat bahkan tidak peduli dengan lingkungan sekitar yang lebih parahnya terjadinya tekanan sosial dan perundingan siber.
Nah, dari faktor-faktor tersebut sudah tergambar bagaimana gangguan kesehatan mental itu terjadi. Berikut beberapa solusinya:
1. Stop Overthinking
Overthinking adalah memikirkan sesuatu secara berlebihan. Apalagi yang dipikirkan itu adalah hal-hal negatif yang belum tentu terjadi. Inilah yang menyebabkan timbul stress dan kecemasan berlebih. Sebaliknya, pikirkanlah hal-hal yang positif yang tidak hanya menenangkan pikiran tapi juga bisa membuat schedule untuk merancang sesuatu di masa depan. Terkadang setiap peristiwa dan masalah tersebut mempunyai hikmah dan pelajaran tersendiri bagi mereka yang mengalami.
2. Perbanyak Bersyukur
Berhenti untuk merasa bahwa diri tidak layak hidup, berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain jika akhirnya hanya membuat mental down. Sayangi diri selagi masih hidup. Gunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya untuk mengatur hidup menjadi lebih bijak. Dan yang paling penting sertakan Tuhan disetiap langkah yang akan di tempuh, jangan merasa sendiri dan ingatlah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Dekatkan diri kepada Tuhan dengan cara memperbanyak ibadah.
3. Luapkan Emosi Melalui Hobi
Setiap manusia itu mempunyai emosi, bagaimana melepaskannya itu tergantung pada kita sendiri. Berhenti untuk meluapkan emosi dengan cara yang tidak benar seperti menyakiti diri sendiri atau orang lain karena cara tersebut bukanlah solusi. Cobalah meluapkan emosi melalui hobi, seperti menulis, berbain bola, panah, alat musik, dan lain sebagainya. Dengan terluapnya emosi melalui hobi, tidak ada yang akan dirugikan baik diri sendiri maupun orang lain justru malah menambah skill yang sangat berfaedah. Dengan tersalurkanya hobi, trauma penderita juga terkesampingkan karena disibukkan oleh kegiatan tersebut.
4. Perbanyak Bersosialisasi
Bersosialisasi juga menjadi solusi untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan mental. Dikarenakan bisa mengurangi depresi dan trauma serta dapat membantu memberikan dampak positif pada otak. Seperti mengikuti beberapa seminar dan serangkaian kegiatan ibadah yang bertujuan untuk memperkuat mental dan memotivasi diri menjadi lebih baik. Dalam memperbanyak sosialisasi tentunya perlu menghindari yang namanya Interaksi sosial disosiatif. Apa itu interaksi disosiatif? Bisa dilihat pada laman ini. Apa Itu Interaksi Sosial Disosiatif? Berikut Definisi, Proses, & Contohnya
Pada laman tersebut akan dijelaskan macam-macam interaksi sosial disosiatif dan contohnya.
5. Perbanyak Olahraga
Dalam penelusuran ini menjelaskan bahwa olahraga yang teratur mampu menurunkan gejala stress seseorang dikarenakan olahraga dapat menurunkan yang namanya hormon kortisol dan epineprin dan juga mampu meningkatkan hormon norepineprin sebagai antidepresan. Tidak hanya itu, olahraga juga mampu meningkatkan hormon endorphin yang mana hormon ini berfungsi untuk memperbaiki suasana hati dan juga mengatasi stress.
Pesan:
Setiap manusia memiliki masalah yang berbeda-beda, entah itu masalah besar maupun masalah yang kecil. Semuanya tergantung bagaimana kita menanggapi masalah tersebut. Masalah yang terjadi bukanlah hambatan untuk kita terus melanjutkan hidup, tetapi masalah adalah salah satu cara membuat manusia menjadi bijak dan dewasa dalam menanggapi suatu keadaan. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari setiap masalah yang terjadi dan yang paling penting tetap percaya diri, jangan pernah merasa terlalu tidak enakan dengan orang lain sampai membuat diri tertekan Sulit Berkata Tidak? Ini 10 Cara untuk Berhenti Menjadi People Pleaser, dan jangan pernah merasa sendiri, sayangi nyawamu, sayangi tubuhmu, jangan terlalu berharap kepada orang lain, bangkit, ciptakan suasana baru yang akan mengubah hidupmu menjadi lebih bermakna karena semuanya dimulai dari diri sendiri.
Daftar Referensi:
Tags:
#DearSenjaBlogCompetition
#mentalhealth
Komentar
Posting Komentar